Rabu, 02 September 2026

Menyusuri Kampung Korod, Menemukan Wajah Sunda di Selatan Bekasi

BUDAYA   Sep 2, 2026  -   Diposting Oleh : Newsroom Diskominfosantik  -  Dibaca : 105 Kali


id13584_IMG-20260902-WA0079.jpg
Seorang ibu bersama hewan ternaknya di depan leuit (lumbung padi) di Kampung Korod, Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah. FOTO : ARIF TIARNO / NEWSROOM DISKOMINFOSANTIK

CIBARUSAH – Suasana pedesaan masih terasa kuat di Kampung Korod, Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Berada di wilayah selatan, kampung yang dihuni sekitar 40 kepala keluarga itu dikelilingi hamparan persawahan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Sebagian besar warga Kampung Korod menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian. Aktivitas mengolah sawah masih menjadi keseharian, di tengah lingkungan perdesaan yang relatif masih terjaga.

Tak hanya bentang alamnya, jejak budaya Sunda juga masih terlihat di kampung tersebut. Salah satunya melalui keberadaan leuit atau lumbung padi tradisional yang hingga kini masih dipertahankan warga.

Keberadaan Leuit menjadi penanda kehidupan agraris masyarakat Sunda yang masih bertahan di tengah perkembangan kawasan Kabupaten Bekasi. Tradisi gotong royong dan kehidupan sosial masyarakat yang erat juga menjadi bagian dari karakter Kampung Korod.

Karakter tersebut menjadi potensi yang dapat dikembangkan seiring munculnya gagasan penataan kawasan perdesaan di wilayah selatan Kabupaten Bekasi.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebelumnya menyampaikan rencana penataan lima desa di Kecamatan Cibarusah dan Bojongmangu. Gagasan tersebut disampaikan saat menghadiri rapat paripurna Hari Jadi ke-76 Kabupaten Bekasi pada 15 Agustus 2026.

Penataan kawasan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga mempertahankan karakter lingkungan dan budaya yang telah hidup di tengah masyarakat. Hal itu pula yang menjadi perhatian Pemerintah Kecamatan Cibarusah dalam melihat potensi Kampung Korod sebagai salah satu kawasan yang memiliki karakter khas.

Plt. Sekretaris Kecamatan Cibarusah, Wowo Fadillah, mengatakan kondisi dan karakter Kampung Korod perlu menjadi dasar dalam menyusun konsep penataan agar pembangunan yang dilakukan nantinya sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Penataan Kampung Korod sebagai kampung bernuansa Sunda tentunya tidak terlepas dari potensi dan tantangan yang dimiliki, baik dari aspek fisik maupun nonfisik,” ujar Wowo saat ditemui, Rabu (2/9/2026).

Menurutnya, salah satu potensi utama Kampung Korod adalah bentang alam serta aktivitas pertanian yang masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Hamparan persawahan, kata dia, dapat dipertahankan sebagai bagian dari karakter kawasan sekaligus dikembangkan untuk mendukung kegiatan wisata tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai lahan pertanian.

“Sebagian besar masyarakat masih bekerja sebagai petani, sehingga persawahan ini menjadi potensi yang harus dipertahankan dan dikembangkan tanpa menghilangkan fungsi lingkungan yang sudah ada,” katanya.

Selain persawahan, keberadaan leuit juga dinilai dapat menjadi bagian penting dalam konsep penataan Kampung Korod. Menurut Wowo, leuit bukan sekadar bangunan tradisional, tetapi memiliki nilai sejarah dan budaya yang menggambarkan kehidupan agraris masyarakat Sunda.

“Leuit yang masih ada memiliki nilai historis dan budaya, sehingga dalam penataan nanti keberadaannya jangan sampai hilang, tetapi justru menjadi bagian dari karakter Kampung Korod,” ungkapnya.

Namun, upaya mengembangkan potensi tersebut masih dihadapkan pada sejumlah persoalan dasar yang perlu dibenahi.

Saat musim kemarau panjang, warga Kampung Korod mengalami kesulitan mendapatkan air bersih karena sumur dapat mengering. Kondisi tersebut juga berdampak terhadap aktivitas pertanian masyarakat. Selain persoalan air, infrastruktur dasar dan akses jalan menuju kawasan tersebut masih membutuhkan perhatian.

“Persoalan air bersih dan infrastruktur dasar menjadi tantangan yang harus diperhatikan, karena penataan bukan hanya soal memperbaiki wajah kampung, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi,” jelas Wowo.

Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, masyarakat Kampung Korod ternyata telah memiliki gagasan mengenai pengembangan kampung mereka. Salah satunya dengan membuat akses jalan yang tidak hanya berfungsi sebagai jalur penghubung, tetapi juga dikembangkan menjadi jalur wisata dan olahraga yang menyusuri kawasan persawahan.

“Warga sudah memiliki angan-angan membuat akses jalan sebagai destinasi wisata dan olahraga dengan konsep yang mencontoh Lembur Pakuan, dari pintu gerbang kemudian menyusuri kampung hingga ke area persawahan,” ujarnya.

Konsep tersebut nantinya dapat dipadukan dengan potensi ekonomi masyarakat. Sepanjang jalur persawahan, warga dapat mengenalkan berbagai produk kuliner lokal, seperti dodol, kerupuk dan rengginang.

Dengan begitu, kegiatan wisata tidak hanya menawarkan pemandangan perdesaan, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan pendapatan.

“Kalau konsep ini berjalan, kuliner khas warga bisa ikut berkembang dan menjadi bagian dari perjalanan wisata, sehingga penataan ini juga dapat membangkitkan sektor perekonomian masyarakat Kampung Korod,” kata Wowo.

Rencana pengembangan kawasan tersebut semakin menarik karena di ujung jalur terdapat jembatan gantung yang dibangun TNI melalui program TMMD 2026. Jembatan tersebut dapat menjadi salah satu titik tujuan wisata sekaligus melengkapi jalur yang menghubungkan kawasan permukiman dengan area persawahan.

“Pengunjung nantinya bisa menyusuri area persawahan, menikmati kuliner warga, kemudian sampai ke jembatan gantung yang dibangun melalui TMMD dan menikmati kawasan tersebut sebagai salah satu daya tarik,” ungkapnya.

Selain mendukung sektor wisata, akses tersebut juga memiliki fungsi penting bagi masyarakat. Jalur yang direncanakan dapat menghubungkan Desa Ridogalih dengan Desa Wibawamulya. Konektivitas itu diharapkan tidak hanya mempermudah mobilitas warga, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi dan mempererat hubungan antarwilayah di kedua desa.

“Dengan terhubungnya Ridogalih dan Wibawamulya, manfaatnya tentu bukan hanya untuk wisata, tetapi juga untuk mobilitas masyarakat dan pengembangan wilayah di kedua desa,” tuturnya.

Penataan Kampung Korod pada akhirnya diharapkan tidak menghilangkan karakter lokal yang selama ini menjadi kekuatannya. Persawahan tetap dipertahankan, leuit dan budaya Sunda dijaga, sementara potensi wisata serta produk ekonomi masyarakat dikembangkan. Di sisi lain, kebutuhan dasar seperti air bersih, akses jalan dan infrastruktur juga menjadi bagian penting dalam proses penataan.

“Harapannya, Kampung Korod tetap memiliki jati diri sebagai kampung Sunda, lingkungannya terjaga, potensi wisatanya berkembang, kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, dan penataan ini pada akhirnya memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan warga,” pungkas Wowo.

Reporter : Arif Tiarno

Editor : Yus Ismail

Berita Lainnya

Menyusuri Kampung Korod, Menemukan Wajah Sunda di Selatan Bekasi
BUDAYA   Sep 2, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Dari Sawah ke Panggung Budaya, Seni Ujungan Bekasi Terus Hidup Lewat Generasi Muda
BUDAYA   Jul 27, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Digelar Sejak 1917, Hajat Bumi Situ Rawabinong Lestarikan Budaya dan Semangat Gotong Royong
BUDAYA   Jul 11, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Disarpus Kabupaten Bekasi Hadirkan Buku "Sejarah Bekasi", Perkuat Literasi dan Jati Diri Daerah
BUDAYA   Jul 3, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Diskominfosantik Bekasi Gaungkan Jumat Bersih, Wujudkan Lingkungan Kerja Sehat dan Nyaman
BUDAYA   Apr 17, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik