Mensos: Sekolah Rakyat Jadi Solusi bagi Anak dari Keluarga Kurang Mampu
PENDIDIKAN
Oct 8, 2026 -
Diposting Oleh : Newsroom Diskominfosantik -
Dibaca : 176 Kali
Penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kemensos RI dan BRIN di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Bekasi, Desa Sukamahi, Cikarang Pusat, Kamis, (08/10/2026).
CIKARANG PUSAT - Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf mengatakan, program Sekolah Rakyat merupakan kebijakan strategis Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan kesempatan pendidikan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu, termasuk mereka yang belum menunjukkan prestasi akademik yang menonjol.
Hal tersebut disampaikan Saifullah Yusuf dalam acara Penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kementerian Sosial RI dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tentang Sinergi Riset dan Inovasi dalam Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Bekasi, Desa Sukamahi, Cikarang Pusat, Kamis (8/10/2026).
Turut hadir pada kegiatan tersebut,
Sekretaris Daerah Kabupaten Bekasi Endin Samsudin didampingi Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bekasi, Alamsyah.
Menurut Saifullah Yusuf, selama ini terdapat kecenderungan program pendidikan dan beasiswa lebih dahulu melihat prestasi akademik siswa. Setelah itu, kondisi ekonomi menjadi pertimbangan berikutnya.
Padahal, terdapat anak yang berasal dari keluarga kurang mampu dan memiliki prestasi akademik baik, tetapi ada pula anak dari keluarga kurang mampu yang kemampuan akademiknya belum menonjol.
"Sudah belum pintar, yang kedua dari keluarga yang masih belum beruntung. Inilah yang menjadi perhatian khusus dari Presiden Prabowo," ujar Saifullah.
Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi perhatian karena anak yang belum menunjukkan prestasi akademik bukan berarti tidak memiliki potensi untuk berkembang.
Menurutnya, Sekolah Rakyat memberikan kesempatan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan sekaligus lingkungan yang dapat membantu mereka mengembangkan kemampuan.
Saifullah mencontohkan, sejumlah siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga dengan pekerjaan dan kondisi ekonomi yang sederhana, seperti anak tukang becak maupun anak pemulung.
Namun, menurutnya, kondisi ekonomi keluarga tidak boleh menjadi penghalang bagi seorang anak untuk mendapatkan pendidikan dan meraih masa depan yang lebih baik.
"Tadi benar, banyak anak-anak dari keluarga tidak mampu, anaknya tukang becak, anaknya pemulung. Tapi karena dia pintar, dia datang beasiswa," katanya.
Di sisi lain, terdapat pula anak dari keluarga kurang mampu yang belum menunjukkan kemampuan akademik yang menonjol. Kelompok tersebut, kata Saifullah, juga harus mendapatkan perhatian melalui pendekatan pendidikan yang tepat.
"Ada yang tentu dia belum pintar dan belum beruntung. Ini macam-macam," ujarnya.
Untuk memperkuat pembentukan karakter dan kedisiplinan siswa, Saifullah mengatakan Kemensos juga berkolaborasi dengan Universitas Pertahanan.
Lebih dari 1.500 mahasiswa Universitas Pertahanan akan diterjunkan ke 182 titik Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia selama dua minggu.
Para mahasiswa akan memberikan pendampingan sekaligus menjadi role model bagi siswa dalam menjalani kehidupan di sekolah berasrama.
Pendampingan tersebut mencakup kebiasaan sehari-hari, mulai dari merawat diri dan barang pribadi, bangun tidur, membersihkan tempat tidur, mengikuti jadwal kegiatan, hingga menjalankan rutinitas sebelum tidur.
Sebelumnya, kadet-kadet Akademi Militer juga telah memberikan pendampingan selama satu pekan untuk membantu memperkuat kedisiplinan siswa Sekolah Rakyat.
Saifullah mengatakan, berbagai kolaborasi tersebut dilakukan untuk memastikan Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan pendidikan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kemandirian siswa.
Sementara itu, Kepala BRIN Prof. Arief Satria mengatakan, program Sekolah Rakyat merupakan kebijakan yang sangat strategis karena berupaya menjangkau kelompok anak yang selama ini cenderung terabaikan dalam kebijakan pendidikan.
Menurut Arief, kebijakan pembangunan pendidikan selama ini sering kali berfokus pada target-target konvensional, terutama anak-anak yang memiliki prestasi akademik tinggi.
Ia kemudian menggambarkan kondisi siswa melalui dua indikator, yakni prestasi akademik dan kondisi ekonomi. Ada siswa yang memiliki prestasi akademik tinggi dan berasal dari keluarga mampu. Ada pula siswa yang berprestasi tetapi berasal dari keluarga kurang mampu sehingga mendapatkan dukungan beasiswa.
Namun, terdapat kelompok siswa yang berada dalam kondisi ekonomi kurang mampu sekaligus belum menunjukkan prestasi akademik yang menonjol. Kelompok tersebut disebut Arief sebagai "kuadran tiga".
"Kuadran tiga ini kuadran yang sering diabaikan. Saya senang sekali selama ini saya berpikir, kapan kita harus menuntaskan masalah kuadran tiga karena kuadran tiga inilah sebenarnya persoalan pendidikan di Indonesia," ujar Arief.
Menurutnya, belum terlihatnya prestasi akademik seorang anak tidak berarti anak tersebut tidak memiliki potensi.
Ia meyakini para siswa Sekolah Rakyat memiliki potensi besar yang dapat berkembang apabila memperoleh lingkungan pendidikan, pendampingan, motivasi, dan pola pembelajaran yang tepat.
Arief mengatakan, terdapat berbagai faktor yang memengaruhi keberhasilan akademik seorang anak, mulai dari guru, orang tua, dan sekolah. Namun, faktor dari dalam diri siswa juga memiliki peran yang sangat penting.
Motivasi, kepercayaan diri, dan pola pikir positif, kata dia, menjadi modal penting bagi siswa untuk berkembang dan mencapai kesuksesan.
"Jangan percaya kalau orang tua kita ini adalah orang yang biasa-biasa saja, sekolah juga sekolah biasa saja, gurunya biasa saja, tapi dia bisa jadi orang hebat. Kenapa? Karena punya mindset yang kuat, punya kepercayaan diri yang kuat, punya motivasi yang kuat, punya pola pikir yang positif," katanya.
Karena itu, Arief mengajak para siswa Sekolah Rakyat untuk memiliki mimpi besar dan tidak menjadikan kondisi keluarga sebagai batas bagi cita-cita mereka.
Ia menyebut kisah Laskar Pelangi sebagai salah satu contoh bahwa keterbatasan kondisi ekonomi dan lingkungan tidak harus menghalangi seseorang untuk mengejar cita-cita.
"Orang-orang yang punya cita-cita, orang-orang yang punya mimpi, orang punya motivasi kuat, kepercayaan diri, dia tidak akan mengeluhkan keadaan tapi dia berusaha mengejar mimpi-mimpinya," ujarnya.
Dalam kerja sama dengan Kemensos, BRIN akan memberikan dukungan melalui riset dan inovasi, baik untuk pengembangan proses pembelajaran maupun penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan Sekolah Rakyat.
Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah inovasi penyediaan air bersih bagi sekolah yang masih mengalami keterbatasan pasokan air.
Arief mengatakan, Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Bekasi juga masih menghadapi persoalan pasokan air bersih. Karena itu, BRIN akan memberikan dukungan melalui peralatan, instrumen, maupun sarana-prasarana hasil riset dan inovasi.
"Kita mendapat dukungan tentang pengadaan dan penyediaan air bersih di gedung-gedung permanen sekolah rakyat. Karena memang di titik-titik tertentu kami mengalami kesulitan untuk bisa memperoleh layanan air bersih," katanya.
Ia menegaskan, BRIN akan mengambil peran sebagai pendukung dalam memperkuat program Sekolah Rakyat melalui hasil riset dan inovasi.
"Kami itu berada di bagian pemain belakang. Tugas pemain belakang apa? Memberikan umpan-umpan, memberikan hasil riset, memberikan hasil-hasil inovasi," ujarnya.
Arief berharap dukungan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi para siswa dan membantu memperkuat penyelenggaraan Sekolah Rakyat di berbagai daerah.
Menurutnya, kolaborasi antara kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi menjadi penting agar berbagai persoalan yang dihadapi Sekolah Rakyat dapat diselesaikan melalui pendekatan berbasis riset dan inovasi.
"Kalau manfaatnya nyata dan kemudian semua siswa itu mendapatkan edukasi yang tinggi, saya yakin ini adalah amal soleh kita semua," katanya.
Reporter : Fajar CQA
Editor : Yus Ismail