Perpustakaan SDN Wanasari 01 Siapkan Koleksi Bacaan Sesuai Minat Siswa
PENDIDIKAN
Sep 28, 2026 -
Diposting Oleh : Newsroom Diskominfosantik -
Dibaca : 105 Kali
MINAT BACA : Anggapan bahwa minat baca siswa kelas tinggi di SDN Wanasari 01, Kecamatan Cibitung, masih rendah mulai terbantahkan. Hasil monitoring Program Perpustakaan Ramah Anak Nasional (PRAN) Gelombang 3 justru menemukan siswa kelas 6 memiliki minat baca tinggi, tetapi membutuhkan buku yang lebih sesuai dengan perkembangan usia mereka. foto : Tata Jaelani
CIBITUNG – Anggapan bahwa minat baca siswa kelas tinggi di SDN Wanasari 01, Kecamatan Cibitung, masih rendah mulai terbantahkan. Hasil monitoring Program Perpustakaan Ramah Anak Nasional (PRAN) Gelombang 3 justru menemukan siswa kelas 6 memiliki minat baca tinggi, tetapi membutuhkan buku yang lebih sesuai dengan perkembangan usia mereka.
Temuan tersebut terungkap dalam Kunjungan Dukungan untuk Aktivasi dan Persiapan Keberlanjutan PRAN Gelombang 3 di SDN Wanasari 01, Senin (28/9/2026).0
Pendamping Perpustakaan Ramah Anak Nasional Kabupaten Bekasi, Muhaidin Darma, mengatakan monitoring tidak hanya melihat aktivitas perpustakaan, tetapi juga menggali kebutuhan siswa agar program literasi dapat terus berkembang.
“Jadi kunjungan hari ini merupakan kunjungan dukungan untuk aktivasi dan persiapan keberlanjutan Program Perpustakaan Ramah Anak Nasional Gelombang 3,” kata Muhaidin.
Menurut Muhaidin, diskusi dengan guru dan pustakawan membuka fakta bahwa persoalan siswa kelas tinggi bukan pada keinginan membaca. Mereka justru mencari bacaan yang lebih menantang dan dekat dengan perkembangan kehidupannya.
“Ternyata bukan minat bacanya yang rendah. Mereka di rumah justru suka membaca, tetapi bahan bacaannya sudah lebih dari yang seusianya, seperti novel,” ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi masukan bagi sekolah untuk tidak sekadar menambah jumlah buku, tetapi memastikan koleksi perpustakaan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak.
“Dari hasil diskusi itu, sekolah ke depan berencana mengupayakan bahan buku bacaan yang berkualitas dan menyesuaikan dengan usia anak-anak, tentu saja di bawah pendampingan guru atau sekolah,” jelasnya.
Muhaidin menilai perkembangan PRAN di SDN Wanasari 01 cukup positif. Selain aktivitas membaca dan membaca nyaring, keterlibatan guru juga terlihat dari lahirnya karya literasi berupa buku antologi.
“SDN Wanasari 01 sangat luar biasa. Guru-gurunya aktif terlibat dan sudah punya karya. Bahkan ada buku antologi guru, jadi bukan hanya siswanya yang terlibat dalam kegiatan literasi, tetapi gurunya juga sudah menghasilkan karya,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala SDN Wanasari 01, Hj. Sulistyowati, mengatakan sekolah terus berupaya membuat perpustakaan menjadi ruang belajar yang menyenangkan. Kegiatan mendongeng dan membaca nyaring menjadi bagian dari upaya tersebut.
“Program ini hadir untuk memonitoring apa saja yang sudah kita lakukan atau sejauh mana kegiatan yang sudah kita lakukan di perpustakaan sekolah kami,” kata Sulistyowati.
Dalam monitoring, guru memperagakan kegiatan mendongeng dengan cerita Burung Gagak yang Cerdas. Kegiatan tersebut menggunakan properti pendukung agar siswa tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga aktif mengikuti proses pembelajaran.
“Anak-anak belajar tetapi sambil berbahagia. Suasananya tidak kaku, sehingga selain motivasi membaca, keberanian anak untuk tampil di depan juga tumbuh,” ungkapnya.
Pengalaman serupa terlihat ketika siswa bernama Siva tampil membaca buku di hadapan adik-adik kelasnya. Bahkan, siswa kelas 6 mulai memanfaatkan e-book dan mampu menjelaskan unsur intrinsik dari cerita yang dibacanya.
Sulistyowati mengatakan perkembangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kebutuhan bacaan siswa terus berubah. Buku yang tersedia saat ini belum seluruhnya mampu menjawab rasa ingin tahu siswa kelas tinggi yang mulai memasuki masa remaja.
“Buku-buku yang ada di perpustakaan kami ternyata belum mengakomodasi tingkat keinginan, minat dan keingintahuan siswa. Mereka ingin membaca buku tentang remaja, masa depan dan kehidupan yang mendekati masa dewasa,” tuturnya.
Karena itu, sekolah akan menambah koleksi bacaan yang mendukung perkembangan anak, termasuk materi mengenai fase pubertas, dengan tetap melibatkan guru, orang tua dan masyarakat. Langkah tersebut diharapkan membuat perpustakaan semakin relevan dengan kebutuhan siswa.
“Ini menjadi masukan bagi sekolah kami untuk menambah buku-buku yang lebih membantu perkembangan anak-anak, tetapi tetap kami arahkan dan kami kerja samakan dengan orang tua serta masyarakat,” jelasnya.
Sulistyowati berharap penguatan budaya membaca dan pemenuhan kebutuhan buku dapat beriringan dengan peningkatan kemampuan literasi dan numerasi siswa. Perubahan tersebut diharapkan tercermin dalam rapor pendidikan sekolah.
“Harapan yang paling krusial adalah rapor pendidikan kami di bidang literasi dan numerasi yang awalnya merah, kemudian sekarang sudah beranjak menjadi kuning, terus naik dan insyaallah spektrumnya menjadi hijau,” pungkasnya.
Reporter : Tata Jaelani
Editor : Fuad Fauzi