Lomba Tingkat II Pramuka Cibitung Ukur Hasil Pembinaan Penggalang
PENDIDIKAN
Sep 25, 2026 -
Diposting Oleh : Newsroom Diskominfosantik -
Dibaca : 104 Kali
PRAMUKA : Sebanyak 46 pangkalan Pramuka tingkat SD/MI di Kecamatan Cibitung mengikuti Lomba Tingkat (LT) II Penggalang SD/MI Kwarran Cibitung Tahun 2026. Kegiatan berlangsung selama tiga hari dua malam, 25-27 September 2026, sekaligus menjadi ajang mengukur hasil pembinaan peserta didik selama satu tahun. foto : Tata Jaelani
CIBITUNG – Sebanyak 46 pangkalan Pramuka tingkat SD/MI di Kecamatan Cibitung mengikuti Lomba Tingkat (LT) II Penggalang SD/MI Kwarran Cibitung Tahun 2026. Kegiatan berlangsung selama tiga hari dua malam, 25-27 September 2026, sekaligus menjadi ajang mengukur hasil pembinaan peserta didik selama satu tahun.
Ketua Kwartir Ranting (Kwarran) Pramuka Cibitung, Sutikno mengatakan, pelaksanaan LT II tahun ini menitikberatkan pada prestasi peserta didik. Berbeda dengan kegiatan tahun sebelumnya yang lebih bersifat pertemuan, kali ini peserta mengikuti berbagai perlombaan untuk menunjukkan kemampuan yang telah diperoleh selama berlatih.
“Untuk tahun ini kita benar-benar pure perlombaan. Kita ingin mengukur kemampuan adik-adik selama berlatih dan dibina oleh kakak-kakaknya di gugus depan selama satu tahun,” ujar Sutikno, Jumat (25/9/2026).
Menurut Sutikno, kegiatan tersebut sekaligus mengakomodasi keinginan para pembina agar kegiatan Pramuka tidak hanya menjadi ajang pertemuan, tetapi juga memberikan ruang bagi peserta untuk meraih prestasi.
“Pembina ingin tidak hanya sekadar jambore, tetapi ada kejuaraan dan perlombaan, sehingga ada hasil yang bisa diraih para anggota Pramuka dari setiap gugus depan,” katanya.
Tingginya partisipasi pangkalan menjadi salah satu indikator positif pelaksanaan kegiatan. Dari sekitar 38 pangkalan SD negeri di Kecamatan Cibitung, sebanyak 36 pangkalan mengikuti kegiatan tersebut. Sementara dari sekitar 15 pangkalan sekolah swasta, hampir 10 pangkalan turut berpartisipasi.
“Kalau untuk mengukur keberhasilannya, memang tidak bisa dikatakan 100 persen, tetapi saya melihat sekitar 98 persen. Ukurannya salah satunya dari jumlah peserta yang ikut,” ungkap Sutikno.
LT II tahun ini khusus diperuntukkan bagi Pramuka Penggalang tingkat SD/MI. Peserta dari tingkat SMP tidak digabung karena sebelumnya telah mengikuti kegiatan perkemahan tersendiri pada akhir Agustus lalu.
“Untuk sekarang ini kita fokus SD. SMP sudah melaksanakan kegiatan sendiri, sehingga kita bagi dua karena mempertimbangkan kapasitas tempat,” jelasnya.
Sutikno menilai kegiatan kepramukaan di alam terbuka dapat menjadi ruang positif bagi anak-anak untuk menyalurkan energi, kreativitas dan kemampuan mereka. Aktivitas tersebut juga dapat menjadi sarana untuk menjauhkan peserta didik dari berbagai kegiatan negatif.
“Pramuka itu salah satu solusi untuk mencegah anak-anak melakukan kegiatan negatif. Kegiatan kepramukaan dilakukan di luar kelas, sehingga mereka bisa berekspresi dan bereksperimen,” katanya.
Sementara itu Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka Kabupaten Bekasi, R Yana Suyatna mengatakan, kegiatan kepramukaan memiliki tujuan lebih luas daripada sekadar kompetisi. Jambore maupun lomba tingkat merupakan bagian dari proses membentuk generasi yang mandiri, disiplin, terampil dan bertanggung jawab.
“Semangat kepanduan ini diharapkan bisa menularkan jiwa patriotik Indonesia yang disiplin, beriman, bertakwa dan berakhlak mulia sesuai tujuan Gerakan Pramuka dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010,” kata Yana.
Ia menjelaskan, keberhasilan pembinaan Pramuka tidak hanya dilihat dari kemampuan peserta dalam mengikuti perlombaan. Penguasaan Syarat Kecakapan Umum (SKU), Syarat Kecakapan Khusus (SKK) dan penerapan kode kehormatan Pramuka juga menjadi bagian penting dalam proses pembinaan.
“Yang terpenting bukan hanya hasil lombanya, tetapi masa depan mereka. Ketika memasuki usia matang, mereka diharapkan sudah memiliki disiplin, pengetahuan, keterampilan dan tanggung jawab sebagaimana yang diajarkan dalam Trisatya dan Dasa Darma,” ujarnya.
Yana menambahkan, pendidikan kepramukaan juga terus diarahkan agar mampu mengikuti perkembangan zaman. Peserta didik didorong untuk berpikir inovatif, adaptif dan mampu memanfaatkan teknologi dalam kegiatan kepramukaan.
“Intinya, inovasi itu menjadi sarana agar mereka selalu berpikir inovatif, adaptif dan memahami teknologi yang dibutuhkan saat ini maupun masa yang akan datang,” katanya.
Menurut Yana, inovasi tersebut telah terlihat dalam sejumlah kegiatan Pramuka di Kabupaten Bekasi, mulai dari robotik hingga pemanfaatan bahan limbah untuk membuat pesawat terbang yang dikembangkan melalui Saka Dirgantara.
“Di Kabupaten Bekasi, salah satu yang sudah diciptakan adalah pesawat terbang dari bahan limbah melalui Saka Dirgantara. Ini menunjukkan bahwa Pramuka juga bisa menjadi ruang untuk berinovasi,” tuturnya.
Yana berharap kegiatan kepramukaan yang dilaksanakan secara berjenjang dapat memperkuat kebersamaan antarpeserta didik. Interaksi lintas sekolah diharapkan membangun karakter sosial sekaligus memperkuat rasa persaudaraan.
“Dengan jambore ranting, lomba tingkat maupun kegiatan lainnya, diharapkan tumbuh rasa kebersamaan dan kasih sayang antarsesama. Ketika mereka terbiasa bergaul dengan teman dari sekolah lain, mudah-mudahan hal-hal negatif seperti tawuran dapat dicegah,” tandasnya.
Reporter : Tata Jaelani
Editor : Fuad Fauzi