Oleh: H. Nuryasin, Lc.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah yang masih mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadan. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muhammad ﷺ, beserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang istikamah mengikuti sunah beliau hingga akhir zaman.
Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah bulan yang mengingatkan manusia tentang hakikat kehidupan: bahwa dunia ini sementara, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang abadi. Salah satu ayat yang sangat menyentuh hati di bulan Ramadan adalah firman Allah dalam surah Yasin ayat 12:
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ
"Sesungguhnya Kami-lah yang menghidupkan orang-orang mati dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)."
Ayat ini mengandung pesan yang sangat dalam: hidup boleh berhenti, tetapi jejak tidak pernah mati.
Semua Akan Dibangkitkan
Dalam ayat tersebut, Allah berfirman, "Inna nahnu nuhyil mawta" (إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَىٰ) yang berarti, "Sesungguhnya Kami-lah yang menghidupkan orang-orang mati."
Ramadan mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Yang muda suatu hari akan menua. Yang sehat bisa saja jatuh sakit. Setiap yang hidup pasti akan wafat. Namun, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Ia hanyalah pintu menuju kehidupan yang sebenarnya, yaitu akhirat.
Kesadaran ini seharusnya membuat kita lebih berhati-hati dalam menjalani hidup dan lebih serius dalam memperbaiki amal.
Setiap Amal Dicatat
Allah melanjutkan firman-Nya: "Wa naktubu ma qaddamu..." (وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا) yang berarti, "Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan."
Tidak ada satu pun amal manusia yang terlewat dari pencatatan Allah. Salat malam yang kita lakukan dalam kesunyian, tilawah yang kita lantunkan di bulan Ramadan, sedekah yang kita berikan secara diam-diam, bahkan air mata tobat yang jatuh di tengah doa—semuanya tercatat rapi di sisi Allah. Hal ini menjadi penghibur sekaligus pengingat bahwa setiap kebaikan, sekecil apa pun, memiliki nilai di hadapan-Nya.
Jejak Amal yang Terus Mengalir
Bagian paling menggugah dari ayat tersebut adalah kalimat "wa atsarahum" (وَآثَارَهُمْ), yang berarti bekas-bekas atau jejak yang mereka tinggalkan.
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan jejak ini adalah amal yang terus memberi manfaat walaupun seseorang telah meninggal dunia. Dalam Islam, hal ini dikenal sebagai amal jariyah. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ
"Barang siapa memulai sunah yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun."
Artinya, ketika seseorang mengajak orang lain kepada kebaikan, maka pahala dari kebaikan itu juga mengalir kepadanya. Jika kita mengajak seseorang untuk menjaga salat, lalu ia istikamah melakukannya selama bertahun-tahun, maka pahala itu terus mengalir kepada kita. Jika kita mengajarkan satu ayat Al-Qur'an dan ayat itu diajarkan kembali kepada orang lain, maka pahalanya akan tetap hidup meskipun kita telah berada di alam kubur.
Ramadan: Momentum Menanam Jejak
Ramadan adalah waktu terbaik untuk menanam jejak kebaikan. Ia bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan perubahan. Pertanyaan penting yang patut kita renungkan adalah: jejak apa yang sudah kita tinggalkan?
Tidak semua orang memiliki kekayaan besar atau kesempatan menjadi tokoh terkenal. Namun, setiap orang memiliki kesempatan untuk meninggalkan kebaikan, sekecil apa pun. Misalnya, dengan membiasakan keluarga salat berjamaah, mengajarkan anak membaca Al-Qur'an, bersedekah walaupun sedikit, atau membagikan ilmu yang benar kepada orang lain. Jejak kebaikan tidak harus besar. Yang terpenting adalah ikhlas dan istikamah.
Waspada Terhadap Jejak Keburukan
Sebagaimana pahala bisa terus mengalir, dosa pun dapat terus mengalir jika seseorang meninggalkan jejak keburukan. Mengajarkan maksiat, menyebarkan berita bohong, atau memberi contoh buruk kepada orang lain bisa menjadi dosa yang terus bertambah bahkan setelah seseorang meninggal dunia. Karena itu, setiap tindakan yang kita lakukan hendaknya dipikirkan dengan matang: apakah ia akan menjadi jejak kebaikan atau justru menjadi beban dosa yang berkepanjangan.
Penutup
Ramadan akan berlalu sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada jaminan bahwa kita akan bertemu kembali dengan Ramadan berikutnya. Namun, satu hal yang pasti: jejak kita akan tetap hidup. Maka, jadikanlah Ramadan ini sebagai titik awal perubahan. Awal dari langkah-langkah kecil yang menanam kebaikan untuk masa depan, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang ketika wafat, amalnya tetap hidup, pahalanya terus mengalir, dan kuburnya diterangi oleh cahaya kebaikan yang pernah ia tanam. Amin ya Rabbal 'alamin.
*Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Bekasi
Berita Lainnya
TERPOPULER BULAN INI
Pengunjung hari ini : 8
Pengunjung Bulan ini : 438029
Total Pengunjung : 4104531