Senin, 05 Oktober 2026

Forwala Diminta Perkuat Peran Perempuan Dalam Menjaga Kerukunan dan Toleransi

SOSIAL   Oct 5, 2026  -   Diposting Oleh : Newsroom Diskominfosantik  -  Dibaca : 58 Kali


id13797_WhatsApp Image 2026-10-05 at 09.04.11.jpeg
TOLERANSI : Forum Wanita Lintas Agama (Forwala) Kabupaten Bekasi terus memperkuat peran perempuan dalam menjaga kerukunan dan toleransi antarumat beragama melalui Seminar Toleransi bertema “Harmoni dalam Keberagaman” di Aula Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Desa Simpangan, Kecamatan Cikarang Utara, Senin (5/10/2026). foto : Tata Jaelani

CIKARANG UTARA – Forum Wanita Lintas Agama (Forwala) Kabupaten Bekasi terus memperkuat peran perempuan dalam menjaga kerukunan dan toleransi antarumat beragama melalui Seminar Toleransi bertema “Harmoni dalam Keberagaman” di Aula Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Desa Simpangan, Kecamatan Cikarang Utara, Senin (5/10/2026).

Mewakili Plt Bupati Bekasi, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asda I) Kabupaten Bekasi, Hudaya, menyampaikan bahwa keberagaman masyarakat Kabupaten Bekasi merupakan kekayaan yang harus dijaga bersama.

“Kabupaten Bekasi merupakan daerah yang masyarakatnya sangat beragam. Kita hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang, suku, budaya, tradisi maupun keyakinan. Keberagaman ini merupakan kekayaan yang harus kita syukuri dan kita jaga bersama,” ujar Hudaya.

Menurutnya, perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menjauh, tetapi menjadi kesempatan untuk membangun pemahaman dan penghargaan terhadap sesama. Pemerintah Kabupaten Bekasi juga menyambut positif kegiatan yang digelar Forwala sebagai bagian dari upaya memperkuat kerukunan di tengah masyarakat.

“Harmoni bukan berarti kita harus menjadi sama. Harmoni adalah ketika perbedaan dapat berjalan berdampingan, saling menghormati dan tetap berada dalam semangat persaudaraan,” katanya.

Hudaya menilai perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun kehidupan masyarakat yang toleran, terutama karena nilai empati, kepedulian dan penghormatan terhadap perbedaan dapat ditanamkan sejak lingkungan keluarga.

“Para ibu dan tokoh perempuan memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai empati, kepedulian dan penghormatan terhadap perbedaan, terutama sejak dari lingkungan keluarga,” ungkapnya.

Karena itu, ia berharap Forwala dapat terus menjadi ruang silaturahmi sekaligus wadah untuk memperkuat peran perempuan dalam menjaga kerukunan. Toleransi, lanjutnya, tidak hanya dimaknai sebagai menerima keberadaan perbedaan, tetapi juga memahami, menghargai dan mampu hidup berdampingan secara damai.

“Pemerintah Kabupaten Bekasi tentu akan mendukung berbagai inisiatif positif masyarakat dalam menjaga kerukunan dan persatuan. Sebab, menciptakan daerah yang aman, damai dan harmonis bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama,” tegas Hudaya.

Ketua Forwala Kabupaten Bekasi, Sri Sugiarti, menjelaskan seminar tersebut merupakan bagian dari rangkaian Festival Kerukunan Umat Beragama yang sebelumnya diawali dengan kunjungan ke sejumlah tempat ibadah bersama unsur Pemerintah Kabupaten Bekasi.

“Rangkaian kegiatan ini dimulai sejak 23 September dengan berkunjung ke tempat-tempat ibadah bersama Plt Kesbangpol. Kemudian rangkaian kedua pada 5 Oktober ini kita melaksanakan seminar dengan tema Harmoni dalam Beragama,” jelas Sri.

Ia mengatakan kegiatan tersebut melibatkan berbagai organisasi kemasyarakatan dan organisasi keagamaan lintas agama dengan tujuan memperluas pemahaman mengenai pentingnya toleransi, khususnya di kalangan perempuan.

“Tujuannya memang kita terus berupaya, khususnya untuk perempuan, bisa bertoleransi terhadap agama lain. Karena sudah banyak indikasi dan beberapa pengalaman ketika ada yang beribadah itu terjadi gesekan. Namun, karena kita terus menjalin silaturahmi dengan umat beragama, alhamdulillah persoalan-persoalan tersebut bisa diselesaikan,” tuturnya.

Menurut Sri, keterlibatan berbagai kelompok keagamaan menunjukkan semangat kebersamaan dalam menjaga kerukunan di Kabupaten Bekasi. Peserta berasal dari sejumlah organisasi Islam maupun non-Islam, di antaranya Fatayat NU, Muslimat, Alisa Khadijah, LDII, GAMKI, perwakilan umat Hindu dan Persatuan Buddha.

“Alhamdulillah semua agama, termasuk sayap organisasi keagamaan lainnya, hadir di sini sebagai perwakilan. Sebelum kegiatan dibuka, Bapak Bupati juga hadir memberikan dukungan dan kekuatan kepada Forwala agar semakin aktif menyosialisasikan toleransi beragama,” katanya.

Sri menilai kondisi kerukunan umat beragama di Kabupaten Bekasi secara umum sudah berjalan baik, meski pemahaman masyarakat tetap perlu terus diperkuat melalui komunikasi dan silaturahmi.

“Kalau untuk Kabupaten Bekasi, saya yakin dan kenyataannya saat ini sudah sangat bagus. Namun namanya masyarakat umum masih perlu diberikan pemahaman-pemahaman. Karena itu, FKUB melalui Forwala harus terus berupaya mengeratkan silaturahmi,” ujarnya.

Ia meyakini komunikasi dan hubungan yang terbangun antarmasyarakat dapat menjadi modal penting untuk mencegah munculnya gesekan, termasuk ketika terdapat kegiatan keagamaan di lingkungan masyarakat.

“Insya Allah ketika kita sudah sering berkegiatan dan sudah saling mengenal, ketika akan beribadah pun karena sudah kenal, insya Allah tidak akan terjadi penolakan. Yang menjadi persoalan biasanya karena kurangnya komunikasi,” ungkap Sri.

Sri menambahkan, sejak berdiri pada 2023 sebagai sayap FKUB, Forwala tidak hanya menggelar seminar, tetapi juga membangun silaturahmi langsung dengan berbagai komunitas dan tempat ibadah serta mengembangkan kegiatan bersama yang menyentuh aspek sosial, ekonomi dan budaya.

“Setiap kegiatan itu pasti ada tiga unsur, yaitu unsur ekonomi, sosial dan budaya. Kita masuk ke semua tempat ibadah, bersilaturahmi, mengenalkan diri, kemudian membuat kegiatan-kegiatan bersama,” katanya.

Ia mencontohkan kegiatan festival yang melibatkan peserta lintas agama dalam lomba memasak sebagai salah satu bentuk sederhana membangun kebersamaan di tengah perbedaan.

“Dalam satu grup itu harus mencakup enam agama. Mereka memasak bersama-sama. Itu salah satu wujud bahwa kebersamaan dalam perbedaan itu luar biasa dan bisa menghasilkan sesuatu yang baik,” jelasnya.

Ke depan, Forwala juga akan terus mengambil peran dalam memberikan pemahaman di lingkungan yang masih membutuhkan penguatan toleransi. Sri menilai pendekatan perempuan yang humanis dan berbasis silaturahmi dapat menjadi salah satu cara untuk membangun penerimaan secara bertahap.

“Forwala mempunyai kewajiban memberikan pencerahan di lingkungan tempat ibadah yang sebelumnya belum disetujui. Mungkin langkah utamanya memang perempuan yang masuk, kemudian membuat kegiatan ekonomi, sosial, budaya maupun pemahaman. Tidak harus selalu dengan cara yang formal, tetapi membaur terlebih dahulu,” tandasnya.

Sri berharap dukungan pemerintah terhadap gerakan kerukunan terus diperkuat, karena kondisi masyarakat yang damai menjadi fondasi bagi pembangunan di berbagai bidang.

“Ketika kita sudah damai, kita bisa melakukan berbagai hal bersama, baik di bidang ekonomi, sosial maupun lainnya. Karena itu, pemerintah memang harus terus mendukung dan menyokong gerakan kerukunan,” pungkasnya.

Reporter : Tata Jaelani

Editor : Fuad Fauzi

Berita Lainnya

Forwala Diminta Perkuat Peran Perempuan Dalam Menjaga Kerukunan dan Toleransi
SOSIAL   Oct 5, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
KORMI Kabupaten Bekasi Dorong Partisipasi Olahraga Lewat Sosialisasi dan Bakti Sosial
SOSIAL   Oct 3, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Gercep, Pj Kades Nagacipta Kawal Langsung Bantuan untuk Warga Terdampak Kekeringan
SOSIAL   Sep 30, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Hankook Tire Salurkan Bantuan CSR, Plt Bupati Bekasi : Bentuk Nyata Kepedulian Dunia Usaha
SOSIAL   Sep 29, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Di Balik Sampah yang Kita Hasilkan, Ada Tangan Mereka yang Menjaga Lingkungan
SOSIAL   Sep 25, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik