Rabu, 01 Desember 2021

Melihat dari Dekat Peninggalan Rumah Tuan Tanah Pebayuran

PENDIDIKAN   Aug 13, 2021  -   Diposting Oleh : Newsroom Diskominfosantik  -  Dibaca : 1.356 Kali


65IMG_20210813_083935.jpg


Kilas Sejarah Jelang Hari Jadi Kabupaten Bekasi Ke-71

PEBAYURAN - Apabila kita berkunjung ke daerah Pebayuran, Kabupaten Bekasi, sebelum tiba di Kantor Kecamatan Pebayuran, ada satu hal yang unik dari daerah ini yakni terdapat dua bangunan tua peninggalan sejarah yang mirip kebanyakan bangunan pada era zaman sebelum kemerdekaan.

Pertama adalah bangunan dengan nama Balai Kemitraan Polisi dan Masyarakat H.M Yasin-Susgarwanto Pebayuran. Dan yang kedua adalah bangunan tanpa plang nama, namun masyarakat sekitar sering menyebutnya sebagai bangunan bekas Rumah Dinas Camat Pebayuran.

Jika melihat lebih dekat dari satu bangunan lama itu yakni Balai Kemitraan Polisi dan Masyarakat H.M Yasin-Susgarwanto Pebayuran, lokasinya persis berada di samping Gedung Mapolsek Pebayuran.

Ciri khas bangunan itu berbentuk memanjang kesamping, jendela tinggi, dinding yang kokoh serta bergaya arsitektur bangunan Belanda. 

Tampak terlihat dari dalam bangunan tersebut, ada aktivitas yang memang biasa digunakan sehari-hari oleh anggota kepolisian Polsek Pebayuran sebagai ruang tambahan perkantoran dan musholla.

Selanjutnya beranjak melihat lebih dekat bangunan lama yang kedua yakni sebuah rumah tinggal yang sudah lama tidak ditempati yang sering sering disebut Rumah Dinas Camat Pebayuran. Kali ini agak sedikit berbeda dengan bangunan lama yang pertama, namun ada ciri khasnya kesamaan dari gaya asitektur bangunannya, dinding dan jendela yang tinggi tetapi tidak seluas dan sebesar dari bangunan lama yang pertama.

Mantan Kepala Desa Kertasari Pebayuran periode 1990-2002, Suratin menjelaskan sedikit tentang asal usul sejarah bangunan lama tersebut.

"Sejak saya kecil sekitar tahun 1070-an, bangunan lama itu sudah berdiri. Yang satu Rumah Dinas Camat Pebayuran dahulunya kerap kami kunjungi bersama teman untuk sekedar menonton televisi bersama. Memang untuk secara detail tentang sejarah awal berdirinya bangunan itu saya tidak begitu mengetahui," terangnya.

Suratin mengatakan, menurut cerita para orang tua, kedua bangunan itu merupakan peninggalan tuan tanah keturunan Tionghoa yang ditinggal pindah oleh pemiliknya. "Karena dahulu ada semacam peraturan agar semua tuan tanah yang masih tinggal di wilayah kecamatan, harus pindah ke kota kabupaten," tuturnya.

Pada sekitar tahun 1940, wilayah Pebayuran masih banyak dikuasai oleh para tuan tanah yang memang mengusai kebanyakan lahan di daerah tersebut, yang sebagian pegawainya juga warga pribumi.

"Nah kedua bangunan lama ini milik mereka tuan tanah yang digunakan sebagai tempat tinggal dan menampung para pegawainya yang bekerja sebagai penagih upeti dari warga setempat," imbuhnya.

Bangunan lama yang persis berada di samping Mapolsek tersebut hingga kini masih sering digunakan untuk keperluan acara tertentu oleh warga setempat. Seperti untuk acara hajatan pernikahan, rapat warga serta pernah juga digunakan sebagai Kantor Urusan Agama (KUA) Pebayuran.

"Saya berharap agar kedepannya dua bangunan yang memiliki nilai sejarah ini lebih diperhatikan. Minimal ada perawatan dan revitalisasi bangunan, yang selanjutnya barangkali dapat dimanfaatkan menjadi pusat edukasi sejarah atau kebudayaan bagi generasi kita nanti," harapnya.

Camat Pebayuran Hanief Zulkifli mengatakan, peninggalan sejarah bangunan bekas tuan tanah Pebayuran diharapkan dapat terus dirawat bahkan bisa ditetapkan sebagai cagar budaya.

"Kami berharap kedepannya agar bangunan lama tersebut tetap terjaga, terawat. Apa lagi nantinya bisa dikuiuhkan sebagai Cagar Budaya yang nantinya akan menjadi identitas sejarah Kabupaten Bekasi untuk pendidikan generasi mendatang," kata Hanief, saat ditemui di kantornya, Kamis (12/08/21).

Informasi lain menyebutkan, seperti dikutip dari laman Disparbud Jawa Barat, pada masa perjuangan kemerdekaan, rumah tuan tanah Pebayuran yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1930, pernah digunakan sebagai basis perjuangan rakyat Indonesia terutama dari daerah Bekasi dan Karawang.

Pada saat Ir. Soekarno diculik oleh para pejuang ke Rengasdengklok untuk persiapan proklamasi kemerdekaan, saat Soekarno akan kembali ke Jakarta sempat dibawa dan mampir dulu di rumah tersebut. Di tempat ini, Soekarno berkesempatan memberikan arahan dan wejangan kepada para pejuang.

Reporter : Risky Andrianto

Editor     : Yus Ismail

 

Berita Lainnya

Siswa SDN Bojongmangu 03 Ikuti Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Jawa Barat
PENDIDIKAN   Nov 29, 2021   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Plt. Bupati Ajak Anak Muda Berkontribusi Membangun Kabupaten Bekasi
PENDIDIKAN   Nov 27, 2021   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Hari Guru Nasional, Camat Sukatani Kunjungi Para Guru di SDN 01 Sukamanah
PENDIDIKAN   Nov 25, 2021   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Camat Bojongmangu Beri Surprise Tumpeng untuk PGRI
PENDIDIKAN   Nov 25, 2021   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Apresiasi Jasa Guru, Disdik Lepas Purna Bhakti Tenaga Pendidik
PENDIDIKAN   Nov 23, 2021   Posted by: Newsroom Diskominfosantik