Mengintip Goa Purba di Kp. Guha Karang Indah Bojongmangu

Mengintip Goa Purba di Kp. Guha Karang Indah Bojongmangu


TerasKreasi.com
Lokasi goa alam di Kp. Guha RT 04/02 Desa Karang Indah Kecamatan Bojongmangu Kabupaten Bekasi, Kamis (01/10/20)

BOJONGMANGU - Cerita tentang adanya goa purba di Kp. Guha Desa Karang Indah Kecamatan Bojongmangu mengundang rasa ingin tahu kami untuk mendatangi daerah paling ujung Kabupaten Bekasi itu yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Cariu Kabupaten Bogor. 

Kamis, 1 Oktober 2020, menjelang tengah hari, dengan menggunakan dua sepeda motor, kami tiba di depan Kantor Desa Karang Indah. Tak lama berselang, datang Sanam Permana, Sekretaris BPD Karang Indah yang sudah janjian akan mengantar kami ke Kampung Guha, lokasi dimana goa-goa purba itu berada.

Di bawah taburan hujan gerimis, kami pun bergegas menuju Kampung Guha yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari Kantor Desa Karang Indah. 

Tak lama kemudian kami tiba di sebuah rumah panggung di bawah bukit kecil yang dipenuhi pohon jati dan rimbunnya pepohonan. Warga sekitar menamai lokasi dimana goa itu berada dengan sebutan "Lobang Sikodong".

Rumah panggung tua yang terbuat dari bambu itu tempat tinggal Bah Incang, juru kunci (kuncen) yang biasa mengantarkan tamu yang ingin melihat lokasi goa.

Kedatangan kami, disambut ramah oleh Bah Incang dan isterinya. Di rumah itu juga sudah ada Asep Suparjo, rekan kerja Kang Sanam di BPD Karang Indah, yang sudah menunggu disana.

Saat kami sedang menikmati kopi hangat sambil mendengarkan cerita Bah Incang tentang goa purba itu, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Tapi kami tetap bersemangat karena Bah Incang yang sudah berumur 64 tahun itu menyanggupi untuk mengantarkan kami ke lokasi goa.

"Engke mun hujan ra'at, ku abah dianteur ka guha (Nanti kalau hujan reda, saya antar ke goa)," ujar laki-laki sepuh berjanggut putih itu.

Hujan pun reda. Kami berempat bersama Bah Incang segera bersiap menuju lokasi goa alam itu. Sebelum berangkat, kami mencopot sepatu karena jalan ke arah bukit becek dan agak licin.

Lelaki tua yang tampak masih lincah itu berjalan di depan. Mengenakan kaos lengan panjang abu-abu, celana pendek hijau bergaris hitam, topi lusuh dan golok terikat di pinggang, Bah Incang membawa kami berjalan menuju ke arah  bukit.

"Dulu tempat ini penuh dengan hutan bambu yang lebat, jarang orang yang berani main kesini," ujarnya sambil berjalan.

Ia juga bercerita, awal mula menjadi kuncen atau juru kunci goa karena menggantikan kakaknya yang sudah almarhum.

"Sebenarnya yang saya tau, ada sembilan goa di sini. Tapi sekarang yang bisa dilihat hanya lima. Yang empat lagi mungkin sudah tertutup tanah dan bebatuan," ucapnya lagi.

Menurut pegiat sejarah Cibarusah, Ahmad Djaelani, nama Kampung Guha ini sudah ada sejak zaman Belanda, bahkan tercatat di peta Belanda pada tahun 1905, yang kemudian menjadi bagian dari Desa Karang Indah.

Bah Incang menyebutkan, banyak cerita tutur dari para orang tua tentang goa purba itu. Salah satunya menjadi tempat persembunyian para  pejuang dari tatar sunda sewaktu melawan penjajah Belanda.

Sambil mendengar cerita Bah Incang, kami tiba di goa pertama. Letaknya di bawah rumpun bambu, sebuah lubang dengan garis tengah kurang dari satu meter yang hampir tertutup tanah dan dedaunan. Tapi ketika diamati, jelas terlihat ada struktur bebatuan yang mengarah ke bawah.

Meski waktu baru menunjukkan jam dua siang, namun suasana mistis mulai terasa. Tak terdengar suara lain kecuali suara angin yang menerpa dedaunan dan serangga gunung yang bersahutan. 

Tanah basah yang kami injak tertutup hamparan daun jati, ada rasa was-was takut ada ular berbisa yang terinjak, sementara kami dalam posisi "nyeker" alias telanjang kaki.

Bah Incang kemudian mengajak kami beranjak menuju goa yang kedua. Letaknya sama di bawah rumpun bambu dengan lubang  yang tidak terlalu besar.

Dan kemudian kami pun tiba di goa yang ketiga. Inilah goa utama  dengan lubang cukup besar, memanjang sekitar satu kali dua meter. Di sini struktur bebatuan goa terlihat lebih jelas. 

Seperti goa vertikal, tapi menurut Bah Incang yang sudah sering keluar masuk goa utama itu, di bawahnya ada banyak lorong yang terhubung dengan tempat lain.

"Kalau mau masuk goa ini, kita turun dulu dengan menggunakan tali sekitar 3 meter, terus kita berjalan merangkak ke arah kiri sekitar 6 meter, nanti ada pintu dari batu. Setelah melewati pintu itu kita akan menemukan ruangan besar yang kira-kira cukup untuk tidur 8 orang," tutur Bah Incang.

Dirinya juga menyebutkan, dari ruangan besar itu ada lorong yang panjangnya sekitar 1 kilometer yang pintu keluarnya  tembus ke kampung di seberang bukit.

"Saya pernah menyusuri lorong itu hampir 6 jam, masuk jam 10 malam sampai pintu keluar sekitar subuh," tambahnya.

Menurut laki-laki kelahiran tahun 1956 ini, banyak hal yang membuat penyusuran lorong goa menjadi lama, diantaranya banyak stalaktit tajam yang kalau tidak hati-hati bisa menggores kepala. 

Selain itu banyak hal menarik yang membuatnya betah berada di dalam goa, seperti menyaksikan cahaya kerlap-kerlip bebatuan dan saat menemukan benda-benda unik yang berharga.

Ketika ditanya benda apa saja yang pernah ditemukan di goa purba itu, Bah Incang mengaku pernah menemukan patung arca berbentuk ular yang barangnya sudah diserahkan ke seorang pejabat di Jakarta pada tahun 1981 lalu untuk di simpan di musium.

"Awalnya saya kira terbuat dari emas karena warnanya kuning mengkilap, tapi setelah dibawa keluar goa, ternyata terbuat dari batu alam berwarna kuning, ukurannya sebesar termos. Saya timbang, beratnya sekitar 16 kg," ujarnya.

Selain itu, ia juga mengaku pernah melihat kapak batu dan peralatan dari batu yang ada di dalam goa purba tersebut.

"Kalau yang kapak batu, saya tidak berani ambil. Mungkin sekarang juga masih ada di dalam," ujarnya.

Tak terasa hari sudah sore. Bah Incang meminta maaf karena tidak bisa melanjutkan memandu kami melihat goa yang keempat dan kelima. 

Kami pun kembali turun meninggalkan lokasi lobang sikodong. Dalam perjalanan pulang, tak sengaja kami menemukan batu yang ketika diamati ternyata fosil kayu yang sudah membatu. Seperti memberi tanda bahwa batuan di perbukitan ujung Bekasi itu sudah berusia sangat purba.

Terlepas dari benar atau tidaknya penuturan Bah Incang tentang penemuan benda-benda bernilai sejarah di tempat itu, goa alam di Kp. Guha RT 04/02 Desa Karang Indah Bojongmangu, perlu mendapat perhatian banyak pihak untuk diteliti lebih lanjut, baik oleh para pegiat sejarah maupun ahli geologi, agar keberadaannya dapat terkuak dan tidak diselimuti misteri.

Reporter : Muh Ikbal
Editor      : Yus Ismail

Tag:    budaya  |  budaya  |  


BERITA TERKAIT

Bermedsos ASN

TULIS KOMENTAR

/* */
Top