Ahmad Taufik, Cerita Heroik Bocah Angon dari Citarik

Ahmad Taufik, Cerita Heroik Bocah Angon dari Citarik


TerasKreasi.com
Ahmad Taufik

CIKARANG UTARA – Masih ingat anak gembala sapi yang menemukan 3 bom granat di rel kereta api antara Stasiun Lemahabang dan Stasiun Kedung Gede pada Tahun 2001 lalu? Dialah Ahmad Taufik (15), siswa kelas 3 SMP Negeri 1 Lemahabang Kabupaten Bekasi yang telah menyelamatkan nyawa para penumpang kereta api dari aksi sabotase.

Berkat keberaniannya itu “bocah angon” warga Kp. Citarik Desa Karangsari ini mendapat banyak penghargaan dan diundang ke Istana Negara oleh Presiden Gusdur. Lalu dimanakah Ahmad Taufik sekarang setelah 19 tahun peristiwa heroik itu berlalu?

Reporter Newsroom Diskominfosantik Kabupaten Bekasi berhasil menjumpai seorang pria yang bekerja sebagai petugas Sekuriti di salah satu sekolah swasta di Kawasan Grand Cikarang City Desa Karangraharja Cikarang Utara, pada Selasa (4/2/20). Di atas kantong baju seragamnya terbaca jelas tulisan “Ahmad Taufik”.

“Waktu itu Hari Senin, 8 Januari 2001. Sekitar jam setengah dua siang, sepulang sekolah, saya sedang menggembalakan 4 ekor sapi di pinggir rel kereta daerah Citarik. Tiba-tiba saya melihat ada kawat di kaki sapi yang saya gembalakan. Setelah kawat itu ditelusurin naik ke rel kereta api, saya kaget karena kawat itu terhubung dengan 3 granat yang sudah dirangkai, 2 granat jenis nanas 1 jenis manggis. Saya ingat seperti di film Rambo itu, bahaya nih kalau meledak, ini mah harus laporan nih, pikir saya waktu itu,” kata Taufik mulai bercerita.

Awalnya Taufik ingin melaporkan penemuan granat itu ke Polsek Lemahabang, tapi karena jaraknya jauh dan takut ada kereta ya keburu lewat,  ia pun memutuskan untuk melaporkan penemuannya itu ke penjaga palang pintu kereta yang jaraknya sekitar 500 meter dari lokasi granat.

“Saya berlari melewati pinggiran rel kereta menemui Pak Didi, penjaga palang pintu kereta untuk laporan, sampai saya berkali-kali jatuh dengan napas ngos-ngosan,” ujar Taufik.

Setelah mendapat laporan, Pak Didi dan Taufik bergegas menuju lokasi bom granat ditemukan. Warga yang rumahnya di sekitar rel kereta mulai ikut berdatangan ingin melihat lokasi granat yang ditemukan Taufik. Tapi saat warga mulai ramai dan berlarian menuju lokasi bom, tiba-tiba terdengar suara klakson kereta dari kejauhan.

“Wah bakal ada kejadian nih, kereta meledak,” pikir Taufik ketika itu.

Dan setelah itu Taufik mengaku tak sadarkan diri. Ia baru sadar setelah ada di salah satu ruangan di Rumah Sakit Annisa Lemahabang di bawah pengamanan aparat kepolisian.

Taufik menuturkan, dari informasi yang ia dapatkan, kereta yang akan melintas ke arah ditemukannya bom itu akhirnya selamat karena sempat dihentikan warga dengan mengibarkan kain merah. Tiga granat yang ditemukan Taufik kemudian berhasil diamankan oleh Tim Gegana Polri.

Hari-hari selanjutnya setelah peristiwa itu menjadi catatan yang sangat berharga dalam hidup Ahmad Taufik. Bocah Angon dari Citarik kelahiran 12 Desember 1986 ini tidak menyangka akan banyak mendapat hadiah dan penghargaan dari berbagai pihak. Selain itu ia juga bisa bertemu dengan orang-orang penting, mulai dari Kapolres, Bupati Bekasi, Wikanda Darmawijaya, Menteri Perhubungan Agum Gumelar, hingga Presiden RI, KH Abdurahman Wahid (Gusdur). 

Nama Ahmad Taufik begitu dikenal karena wajah “bocah bekasi” itu sering menghiasi berbagai halaman koran dan layar televisi nasional, hadiah uang tunai dan berbagai penghargaan pun ia dapatkan. Sebuah media cetak nasional terkemuka bahkan pernah memuat editorial berjudul “Ahmad Taufik, Oase dari Karangsari”, di tengah kering kerontangnya kepedulian antar sesama.

“Waktu ketemu Gusdur saya dikasih beasiswa tunai Rp10 juta untuk biaya melanjutkan sekolah dan sebuah jam tangan dari Presiden,” kata pria 33 tahun yang sudah menyandang gelar S1 ini.

Meskipun saat ini hanya bekerja sebagai seorang Security, Ahmad Taufik menuturkan dirinya tetap bersyukur karena pernah berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi kemanusiaan. Taufik hanya berpesan kepada generasi muda sekarang, agar lebih peduli terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitar.

“Anak-anak muda harus lebih banyak bersilaturahmi, bertatap muka, duduk bareng, jangan hanya bersosialisasi lewat sosmed atau WA. Kita harus lebih peduli, siapa tahu ada saudara kita yang membutuhkan pertolongan,” ucapnya.

Kini ia bersama isterinya, Yati Yulianti bersama ketiga orang anaknya, yang tinggal di Kp. Pintu Air Desa Karangraharja Cikarang Utara, sedang merintis Rumah Bimbel Juara (RBJ), sebuah sekolah alternatif dengan biaya sangat terjangkau dan gratis untuk anak yatim piatu. 

Reporter : Muhamad Ikbal

Editor    : Yus Ismail

Tag:    profil  |  


BERITA TERKAIT

Bermedsos ASN

TULIS KOMENTAR

/* */
Top